Remake : Bermimpi Seperti Anak Kecil

Tulisan ini saya tulis pada tahun 2013, dan dibuat ulang di tahun 2026.

Ada masa ketika hidup terasa begitu sederhana.

Saat kita tidak bertanya apakah mimpi itu masuk akal atau tidak.
Saat kita tidak sibuk menghitung kegagalan sebelum mencoba.

Masa itu bernama: masa kanak-kanak.

Waktu kecil, kita bermimpi tanpa takut ditertawakan.
Ingin terbang seperti pahlawan super, lalu mengambil kain sarung dan mengikatkannya di leher.
Kita berlari, melompat, dan percaya sepenuh hati bahwa kita bisa terbang.

Orang-orang dewasa mungkin tersenyum melihatnya.
Bagi mereka itu hanya permainan.
Tapi bagi seorang anak kecil, itu adalah keyakinan.

Dan dari keyakinan itulah, bahagia lahir dengan cara paling sederhana.

Lalu waktu berjalan.
Tanpa kita sadari, kita tumbuh.

Dan di titik itulah, banyak hal berubah.

Kita mulai bertanya terlalu banyak sebelum melangkah.
Mulai menghitung risiko sebelum mencoba.
Mulai takut gagal, bahkan sebelum benar-benar berjuang.

Kita menyebutnya dewasa.
Padahal sering kali, itu hanyalah takut yang diberi nama lain: realistis.

Pernahkah kamu merasa hidupmu berat akhir-akhir ini?
Bukan karena jalannya terlalu terjal,
tetapi karena hatimu terlalu sering ragu.

Kita lupa bahwa bahagia tidak pernah serumit itu.
Ia hadir saat kita berhenti membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.
Saat kita mau menerima diri sendiri.
Saat kita belajar bersyukur, meski mimpi belum sepenuhnya tercapai.

Jika hari ini mimpimu terasa jauh, aku ingin kamu tahu satu hal:
itu wajar.

Jika langkahmu tertatih, jika usahamu belum membuahkan hasil,
itu bukan kegagalan—itu proses.

Ingatlah bagaimana anak kecil menghadapi jatuhnya.
Ia menangis sebentar, mengusap lututnya, lalu berdiri kembali.
Ia tidak menyalahkan jalan, tidak membenci tanah tempat ia tersandung.

Allah pun tidak menuntut kita untuk selalu menang.
Allah hanya meminta kita untuk tidak berhenti berjalan.

Sering kali kegagalan bukan tanda bahwa kita salah arah,
melainkan cara Tuhan menguatkan langkah kita.

Maka hari ini, cobalah kembali menjadi seperti anak kecil.
Berani bermimpi.
Berani mencoba.
Berani percaya.

Tak apa jika pelan.
Tak apa jika jatuh berkali-kali.

Yang penting, jangan berhenti.

Karena hidup ini terlalu berharga untuk dijalani dengan rasa takut.
Dan mimpi terlalu indah untuk dibiarkan mati sebelum diperjuangkan—dengan doa, dengan usaha, dan dengan keyakinan kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

download legenda pendekar pemanah rajawali gratis

Kekecewaan akan datang silih berganti

Remake : Hati yang Baru dengan Cinta yang Lama